Diposting oleh
Noah Lirik Video on Sabtu, 30 Oktober 2010
mencoba menggambar cetak cahaya di jubah malam biar ada sedikit binar dalam kelam tanda ada harapan walau harus berjuang menggoresnya sampai terang adakah bintang-bintang bersedia membantuku menabuh genderang perang dengan ketiadaan ? ataukah memang ini keadaan harus diarungi sebagai bagian dari perjalanan ? kemana genggam tangan yang biasa bantu mengarahkan dalam kebutaan ? aku sendiriankah ?.........
Diposting oleh
Noah Lirik Video on Senin, 25 Oktober 2010
Basah pikirku, basah khayalku kehujanan di dalam ruang amnesiamu
Gelegar guntur, salam pembuka langit murung menuntun kelupaan pada cucian di jemuran dua ember penuh popok kain pel yang berhari-hari di halaman
Aku menghitung rintik hujan lalu mengalikannya dengan degup jantung
Basah pikirku basah khayalku aku pun keluar kamar, berhujan-hujanan memandikan tubuh dari masa lalu dan pada hujan yang menggurat kemarau di kening siang lamat-lamat kudengar tangisan musim untuk cuaca yang salah pada jadwal pemberangkatan
Hujan buatan, Amnesia memandikan pikiran dan khayalan pada jadwal yang terpaut berbulan-bulan
Diposting oleh
Noah Lirik Video on Selasa, 21 September 2010
AKU
Kalau sampai waktuku 'Ku mau tak seorang kan merayu Tidak juga kau Tak perlu sedu sedan itu Aku ini binatang jalang Dari kumpulannya terbuang Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang Luka dan bisa kubawa berlari Berlari Hingga hilang pedih peri Dan aku akan lebih tidak perduli Aku mau hidup seribu tahun lagi Maret 1943
Diposting oleh
Noah Lirik Video on Sabtu, 04 September 2010
SEPENGGAL PUISI CAK NUN Oleh : Emha Ainun Najib
sayang sayang kita tak tau kemana pergi tak sanggup kita dengarkan suara yang sejati langkah kita mengabdi pada kepentingan nafsu sendiri yang bisa kita pandang hanya kepentingan sendiri loyang disangka emas emasnya di buang buang kita makin buta yang mana utara yang mana selatan yang kecil dibesarkan yang besar di remehkan yang penting disepelekan yang sepele diutamakan
Allah Allah betapa busuk hidup kami dan masih akan membusuk lagi betapa gelap hari di depan kami mohon ayomilah kami yang kecil ini
Diposting oleh
Noah Lirik Video on Jumat, 03 September 2010
TENTANG MATAHARI - Sapardi Djoko Damono Matahari yang di atas kepalamu itu adalah balonan gas yang terlepas dari tanganmu waktu kau kecil, adalah bola lampu yang di atas meja ketika kau menjawab surat-surat yang teratur kau terima dari sebuah Alamat, adalah jam weker yang berdering sedang kau bersetubuh, adalah gambar bulan yang dituding anak kecil itu sambil berkata: "Ini matahari! Ini matahari!" Matahari itu? Ia memang di atas sana supaya selamanya kau menghela bayang-bayanganmu itu.
Diposting oleh
Noah Lirik Video on Kamis, 02 September 2010
KUDEKAP KUSAYANG-SAYANG Oleh : Emha Ainun Naijb
Kepadamu kekasih kupersembahkan segala api keperihan di dadaku ini demi cintaku kepada semua manusia Kupersembahkan kepadamu sirnanya seluruh kepentingan diri dalam hidup demi mempertahankan kemesraan rahasia, yang teramat menyakitkan ini, denganmu Terima kasih engkau telah pilihkan bagiku rumah persemayaman dalam jiwa remuk redam hamba-hambamu Kudekap mereka, kupanggul, kusayang-sayang, dan ketika mereka tancapkan pisau ke dadaku, mengucur darah dari mereka sendiri, sehingga bersegera aku mengusapnya, kusumpal, kubalut dengan sobekan-sobekan bajuku Kemudian kudekap ia, kupanggul, kusayang-sayang, kupeluk, kugendong-gendong, sampai kemudian mereka tancapkan lagi pisau ke punggungku, sehingga mengucur lagi darah batinnya, sehingga aku bersegera mengusapnya, kusumpal, kubalut dengan sobekan-sobekan bajuku, kudekap, kusayang-sayang.
Diposting oleh
Noah Lirik Video on Rabu, 01 September 2010
MATA PISAU - Sapardi Djoko Damono
mata pisau itu tak berkejap menatapmu kau yang baru saja mengasahnya berfikir: ia tajam untuk mengiris apel yang tersedia di atas meja sehabis makan malam; ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu
Diposting oleh
Noah Lirik Video on Selasa, 31 Agustus 2010
SERIBU MASJID SATU JUMLAHNYA Oleh : Emha Ainun Najib
Satu Masjid itu dua macamnya Satu ruh, lainnya badan Satu di atas tanah berdiri Lainnya bersemayam di hati
Tak boleh hilang salah satunyaa Kalau ruh ditindas, masjid hanya batu Kalau badan tak didirikan, masjid hanya hantu Masing-masing kepada Tuhan tak bisa bertamu Dua Masjid selalu dua macamnya Satu terbuat dari bata dan logam Lainnya tak terperi Karena sejati
Tiga Masjid batu bata Berdiri di mana-mana Masjid sejati tak menentu tempat tinggalnya Timbul tenggelam antara ada dan tiada
Mungkin di hati kita Di dalam jiwa, di pusat sukma Membisikkannama Allah ta'ala Kita diajari mengenali-Nya
Di dalam masjid batu bata Kita melangkah, kemudian bersujud Perlahan-lahan memasuki masjid sunyi jiwa Beriktikaf, di jagat tanpa bentuk tanpa warna
Empat Sangat mahal biaya masjid badan Padahal temboknya berlumut karena hujan Adapun masjid ruh kita beli dengan ketakjuban Tak bisa lapuk karena asma-Nya kita zikirkan
Masjid badan gmpang binasa Matahari mengelupas warnanya Ketika datang badai, beterbangan gentingnya Oleh gempa ambruk dindingnya Masjid ruh mengabadi Pisau tak sanggup menikamnya Senapan tak bisa membidiknya Politik tak mampu memenjarakannya
Lima Masjid ruh kita baw ke mana-mana Ke sekolah, kantor, pasar dan tamasya Kita bawa naik sepeda, berjejal di bis kota Tanpa seorang pun sanggup mencopetnya
Sebab tangan pencuri amatlah pendeknya Sedang masjid ruh di dada adalah cakrawala Cengkeraman tangan para penguasa betapa kerdilnya Sebab majid ruh adalah semesta raya
Jika kita berumah di masjid ruh Tak kuasa para musuh melihat kita Jika kita terjun memasuki genggaman-Nya Mereka menembak hanya bayangan kita
Enam Masjid itu dua macamnya Masjid badan berdiri kaku Tak bisa digenggam Tak mungkin kita bawa masuk kuburan
Adapun justru masjid ruh yang mengangkat kita Melampaui ujung waktu nun di sana Terbang melintasi seribu alam seribu semesta Hinggap di keharibaan cinta-Nya
Tujuh Masjid itu dua macamnya Orang yang hanya punya masjid pertama Segera mati sebelum membusuk dagingnya Karena kiblatnya hanya batu berhala
Tetapi mereka yang sombong dengan masjid kedua Berkeliaran sebagai ruh gentayangan Tidak memiliki tanah pijakan Sehingga kakinya gagal berjalan
Maka hanya bagi orang yang waspada Dua masjid menjadi satu jumlahnya Syariat dan hakikat Menyatu dalam tarikat ke makrifat
Delapan Bahkan seribu masjid, sjuta masjid Niscaya hanya satu belaka jumlahnya Sebab tujuh samudera gerakan sejarah Bergetar dalam satu ukhuwah islamiyah
Sesekali kita pertengkarkan soal bid'ah Atau jumlah rakaat sebuah shalat sunnah Itu sekedar pertengkaran suami istri Untuk memperoleh kemesraan kembali
Para pemimpin saling bercuriga Kelompok satu mengafirkan lainnya Itu namanya belajar mendewasakan khilafah Sambil menggali penemuan model imamah
Sembilan Seribu masjid dibangun Seribu lainnya didirikan Pesan Allah dijunjung di ubun-ubun Tagihan masa depan kita cicilkan
Seribu orang mendirikan satu masjid badan Ketika peradaban menyerah kepada kebuntuan Hadir engkau semua menyodorkan kawruh
Seribu masjid tumbuh dalam sejarah Bergetar menyatu sejumlah Allah Digenggamnya dunia tidak dengan kekuasaan Melainkan dengan hikmah kepemimpinan
Allah itu mustahil kalah Sebab kehidupan senantiasa lapar nubuwwah Kepada berjuta Abu Jahl yang menghadang langkah Muadzin kita selalu mengumandangkan Hayya 'Alal Falah!
1987
Profil Emha Ainun Nadjib [ Cak Nun ] :
Nama: EMHA AINUN NAJIB Lahir: Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953 Agama: Islam Isteri: Novia Kolopaking
Pendidikan: - SD, Jombang (1965) - SMP Muhammadiyah, Yogyakarta (1968) - SMA Muhammadiyah, Yogyakarta (1971) - Pondok Pesantren Modern Gontor - FE di Fakultas Filsafat UGM (tidak tamat)
Karir: - Pengasuh Ruang Sastra di harian Masa Kini, Yogyakarta (1970) - Wartawan/Redaktur di harian Masa Kini, Yogyakarta (1973-1976) - Pemimpin Teater Dinasti (Yogyakarta) - Pemimpin Grup musik Kyai Kanjeng - Penulis puisi dan kolumnis di beberapa media
Karya Seni Teater: • Geger Wong Ngoyak Macan (1989, tentang pemerintahan 'Raja' Soeharto), • Patung Kekasih (1989, tentang pengkultusan), • Keajaiban Lik Par (1980, tentang eksploitasi rakyat oleh berbagai institusi modern), • Mas Dukun (1982, tentang gagalnya lembaga kepemimpinan modern). • Santri-Santri Khidhir (1990, bersama Teater Salahudin di lapangan Gontor dengan seluruh santri menjadi pemain, serta 35.000 penonton di alun-alun madiun), • Lautan Jilbab (1990, dipentaskan secara massal di Yogya, Surabaya dan Makassar), • Kiai Sableng dan Baginda Faruq (1993). • Perahu Retak (1992).
Buku Puisi: • “M” Frustasi (1976), • Sajak-Sajak Sepanjang Jalan (1978), • Sajak-Sajak Cinta (1978), • Nyanyian Gelandangan (1982), • 99 Untuk Tuhanku (1983), • Suluk Pesisiran (1989), • Lautan Jilbab (1989), • Seribu Masjid Satu Jumlahnya ( 1990), • Cahaya Maha Cahaya (1991), • Sesobek Buku Harian Indonesia (1993), • Abacadabra (1994), • Syair Amaul Husna (1994)
Buku Essai: • Dari Pojok Sejarah (1985), • Sastra Yang Membebaskan (1985) • Secangkir Kopi Jon Pakir (1990), • Markesot Bertutur (1993), • Markesot Bertutur Lagi (1994), • Opini Plesetan (1996), • Gerakan Punakawan (1994), • Surat Kepada Kanjeng Nabi (1996), • Indonesia Bagian Penting dari Desa Saya (1994), • Slilit Sang Kiai (1991), • Sudrun Gugat (1994), • Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai (1995), • Bola- Bola Kultural (1996), • Budaya Tanding (1995), • Titik Nadir Demokrasi (1995), • Tuhanpun Berpuasa (1996), • Demokrasi Tolol Versi Saridin (1997) • Kita Pilih Barokah atau Azab Allah (1997) • Iblis Nusantara Dajjal Dunia (1997), • 2,5 Jam Bersama Soeharto (1998), • Mati Ketawa Cara Refotnasi (1998) • Kiai Kocar Kacir (1998) • Ziarah Pemilu, Ziarah Politik, Ziarah Kebangsaan (1998) • Keranjang Sampah (1998) Ikrar Husnul Khatimah (1999) • Jogja Indonesia Pulang Pergi (2000), • Ibu Tamparlah Mulut Anakmu (2000), • Menelusuri Titik Keimanan (2001), • Hikmah Puasa 1 & 2 (2001), • Segitiga Cinta (2001), • “Kitab Ketentraman” (2001), • “Trilogi Kumpulan Puisi” (2001), • “Tahajjud Cinta” (2003), • “Ensiklopedia Pemikiran Cak Nun” (2003), • Folklore Madura (2005), • Puasa ya Puasa (2005), • Kerajaan Indonesia (2006, kumpulan wawancara), • Kafir Liberal (2006) • Jalan Sunyi EMHA (Ian L. Betts, Juni 2006)
Emha Ainun Nadjib Kyai Kanjeng Sang Pelayan
Budayawan Emha Ainun Nadjib, kelahiran Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953, ini seorang pelayan. Suami Novia Kolopaking dan pimpinan Grup Musik Kyai Kanjeng, yang dipanggil akrab Cak Nun, itu memang dalam berbagai kegiatannya, lebih bersifat melayani yang merangkum dan memadukan dinamika kesenian, agama, pendidikan politik dan sinergi ekonomi. Semua kegiatan pelayannya ingin menumbuhkan potensialitas rakyat.
Bersama Grup Musik Kiai Kanjeng, Cak Nun rata-rata 10-15 kali per bulan berkeliling ke berbagai wilayah nusantara, dengan acara massal yang umumnya dilakukan di area luar gedung. Di samping itu, secara rutin (bulanan) bersama komunitas Masyarakat Padang Bulan, aktif mengadakan pertemuan sosial melakukan berbagai dekonstruksi pemahaman atas nilai-nilai, pola-pola komunikasi, metoda perhubungan kultural, pendidikan cara berpikir, serta pengupayaan solusi-solusi masalah masyarakat.
Dalam berbagai forum komunitas Masyarakat Padang Bulan, itu pembicaraan mengenai pluralisme sering muncul. Berkali-kali Cak Nun yang menolak dipanggil kiai itu meluruskan pemahaman mengenai konsep yang ia sebut sebagai manajemen keberagaman itu. Dia selalu berusaha meluruskan berbagai salah paham mengenai suatu hal, baik kesalahan makna etimologi maupun makna kontekstual. Salah satunya mengenai dakwah, dunia yang ia anggap sudah terpolusi. Menurutnya, sudah tidak ada parameter siapa yang pantas dan tidak untuk berdakwah. “Dakwah yang utama bukan dengan kata-kata, melainkan dengan perilaku. Orang yang berbuat baik sudah berdakwah," katanya.
Karena itulah ia lebih senang bila kehadirannya bersama istri dan kelompok musik Kiai Kanjeng di taman budaya, masjid, dan berbagai komunitas warga tak disebut sebagai kegiatan dakwah. "Itu hanya bentuk pelayanan. Pelayanan adalah ibadah dan harus dilakukan bukan hanya secara vertikal, tapi horizontal," ujarnya.
Emha merintis bentuk keseniannya itu sejak akhir 1970-an, bekerja sama dengan Teater Dinasti -- yang berpangkalan di rumah kontrakannya, di Bugisan, Yogyakarta. Beberapa kota di Jawa pernah mereka datangi, untuk satu dua kali pertunjukan. Selain manggung, ia juga menjadi kolumnis.
Dia anak keempat dari 15 bersaudara. Ayahnya, Almarhum MA Lathif, adalah seorang petani. Dia mengenyam pendidikan SD di Jombang (1965) dan SMP Muhammadiyah di Yogyakarta (1968). Sempat masuk Pondok Modern Gontor Ponorogo tapi kemudian dikeluarkan karena melakukan demo melawan pemerintah pada pertengahan tahun ketiga studinya. Kemudian pindah ke SMA Muhammadiyah I, Yogyakarta sampai tamat. Lalu sempat melanjut ke Fakultas Ekonomi UGM, tapi tidak tamat.
Lima tahun (1970-1975) hidup menggelandang di Malioboro, Yogya, ketika belajar sastra dari guru yang dikaguminya, Umbu Landu Paranggi, seorang sufi yang hidupnya misterius dan sangat memengaruhi perjalanan Emha berikutnya.
Karirnya diawali sebagai Pengasuh Ruang Sastra di harian Masa Kini, Yogyakarta (1970). Kemudian menjadi Wartawan/Redaktur di harian Masa Kini, Yogyakarta (1973-1976), sebelum menjadi pemimpin Teater Dinasti (Yogyakarta), dan grup musik Kyai Kanjeng hingga kini. Penulis puisi dan kolumnis di beberapa media.
Ia juga mengikuti berbagai festival dan lokakarya puisi dan teater. Di antaranya mengikuti lokakarya teater di Filipina (1980), International Writing Program di Universitas Iowa, AS (1984), Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda (1984) dan Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman (1985).
Karya Seni Teater
Cak Nun memacu kehidupan multi-kesenian di Yogya bersama Halimd HD, networker kesenian melalui Sanggarbambu, aktif di Teater Dinasti dan mengasilkan beberapa reportoar serta pementasan drama. Di antaranya: Geger Wong Ngoyak Macan (1989, tentang pemerintahan 'Raja' Soeharto); Patung Kekasih (1989, tentang pengkultusan); Keajaiban Lik Par (1980, tentang eksploitasi rakyat oleh berbagai institusi modern); Mas Dukun (1982, tentang gagalnya lembaga kepemimpinan modern).
Selain itu, bersama Teater Salahudin mementaskan Santri-Santri Khidhir (1990, di lapangan Gontor dengan seluruh santri menjadi pemain, serta 35.000 penonton di alun-alun madiun). Lautan Jilbab (1990, dipentaskan secara massal di Yogya, Surabaya dan Makassar); dan Kiai Sableng dan Baginda Faruq (1993).
Juga mementaskan Perahu Retak (1992, tentang Indonesia Orba yang digambarkan melalui situasi konflik pra-kerajaan Mataram, sebagai buku diterbitkan oleh Garda Pustaka), di samping Sidang Para Setan, Pak Kanjeng, Duta Dari Masa Depan.
Dia juga termasuk kreatif dalam menulis puisi. Terbukti, dia telah menerbitkan 16 buku puisi: “M” Frustasi (1976); Sajak-Sajak Sepanjang Jalan (1978); Sajak-Sajak Cinta (1978); Nyanyian Gelandangan (1982); 99 Untuk Tuhanku (1983); Suluk Pesisiran (1989); Lautan Jilbab (1989); Seribu Masjid Satu Jumlahnya ( 1990); Cahaya Maha Cahaya (1991); Sesobek Buku Harian Indonesia (1993); Abacadabra (1994); dan Syair Amaul Husna (1994)
Selain itu, juga telah menerbitkan 30-an buku esai, di antaranya: Dari Pojok Sejarah (1985); Sastra Yang Membebaskan (1985); Secangkir Kopi Jon Pakir (1990); Markesot Bertutur (1993); Markesot Bertutur Lagi (1994); Opini Plesetan (1996); Gerakan Punakawan (1994); Surat Kepada Kanjeng Nabi (1996); Indonesia Bagian Penting dari Desa Saya (1994); Slilit Sang Kiai (1991); Sudrun Gugat (1994); Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai (1995); Bola- Bola Kultural (1996); Budaya Tanding (1995); Titik Nadir Demokrasi (1995); Tuhanpun Berpuasa (1996); Demokrasi Tolol Versi Saridin (1997); Kita Pilih Barokah atau Azab Allah (1997);
Iblis Nusantara Dajjal Dunia (1997); 2,5 Jam Bersama Soeharto (1998); Mati Ketawa Cara Refotnasi (1998); Kiai Kocar Kacir (1998); Ziarah Pemilu, Ziarah Politik, Ziarah Kebangsaan (1998); Keranjang Sampah (1998); Ikrar Husnul Khatimah (1999); Jogja Indonesia Pulang Pergi (2000); Ibu Tamparlah Mulut Anakmu (2000); Menelusuri Titik Keimanan (2001); Hikmah Puasa 1 & 2 (2001); Segitiga Cinta (2001); “Kitab Ketentraman” (2001); “Trilogi Kumpulan Puisi” (2001); “Tahajjud Cinta” (2003); “Ensiklopedia Pemikiran Cak Nun” (2003); Folklore Madura (2005); Puasa ya Puasa (2005); Kerajaan Indonesia (2006, kumpulan wawancara); Kafir Liberal (2006); dan, Jalan Sunyi EMHA (Ian L. Betts, Juni 2006).
Pluralisme
Cak Nun bersama Grup Musik Kiai Kanjeng dengan balutan busana serba putih, ber-shalawat (bernyanyi) dengan gaya gospel yang kuat dengan iringan musik gamelan kontemporer di hadapan jemaah yang berkumpul di sekitar panggung Masjid Cut Meutia. Setelah shalat tarawih terdiam, lalu sayup-sayup terdengar intro lagu Malam Kudus. Kemudian terdengar syair, "Sholatullah salamullah/ ’Ala thoha Rasulillah/ Sholatullah salamullah/ Sholatullah salamullah/ ’Ala yaasin Habibillah/ ’Ala yaasin Habibillah..."
Tepuk tangan dan teriakan penonton pun membahana setelah shalawat itu selesai dilantunkan. "Tidak ada lagu Kristen, tidak ada lagu Islam. Saya bukan bernyanyi, saya ber-shalawat," ujarnya menjawab pertanyaan yang ada di benak jemaah masjid.
Tampaknya Cak Nun berupaya merombak cara pikir masyarakat mengenai pemahaman agama. Bukan hanya pada Pagelaran Al Quran dan Merah Putih Cinta Negeriku di Masjid Cut Meutia, Jakarta, Sabtu (14/10/2006) malam, itu ia melakukan hal-hal yang kontroversial. Dalam berbagai komunitas yang dibentuknya, oase pemikiran muncul, menyegarkan hati dan pikiran.
Perihal pluralisme, sering muncul dalam diskusi Cak Nun bersama komunitasnya. "Ada apa dengan pluralisme?" katanya. Menurut dia, sejak zaman kerajaan Majapahit tidak pernah ada masalah dengan pluralisme.
"Sejak zaman nenek moyang, bangsa ini sudah plural dan bisa hidup rukun. Mungkin sekarang ada intervensi dari negara luar," ujar Emha. Dia dengan tegas menyatakan mendukung pluralisme. Menurutnya, pluralisme bukan menganggap semua agama itu sama. Islam beda dengan Kristen, dengan Buddha, dengan Katolik, dengan Hindu. “Tidak bisa disamakan, yang beda biar berbeda. Kita harus menghargai itu semua," tutur budayawan intelektual itu. ►e-ti
Diposting oleh
Noah Lirik Video on Selasa, 24 Agustus 2010
DIBAWA GELOMBANG - Sanusi Pane
Alun membawa bidukku perlahan Dalam kesunyian malam waktu Tidak berpawang tidak berkawan Entah kemana aku tak tahu
Jauh di atas bintang kemilau Seperti sudah berabad-abad Dengan damai mereka meninjau Kehidupan bumi yang kecil amat
Aku bernyanyi dengan suara Seperti bisikan angin di daun Suaraku hilang dalam udara Dalam laut yang beralun-alun Alun membawa bidukku perlahan Dalam kesunyian malam waktu Tidak berpawang tidak berkawan Entah kemana aku tak tahu
Profil SAnusi PAne
Sastrawan Sanusi Pane dilahirkan di Muara Sipongi, Tapanuli, Sumatera Utara, 14 November 1905. Ia menempuh pendidikan formal di HIS dan ElS di Padang Sidempuan, Tanjungbalai, Sibolga, Sumatera Utara. Kemudian melanjutkan ke Mulo di Padang dan Jakarta, tamat 1922. Setamat Kweekschool Gunung Sahari tahun 1925, ia diminta mengajar di sekolah itu juga yang kemudian dipindahkan ke Lembang dan jadi HIK. Selanjutnya ia mendapat kesempatan mengikuti kuliah Othnologi di Rechtshogeschool.
Pada Tahun 1929-1930 ia mengunjungi India. Sekembalinya dari sana, ia duduk dalam redaksi majalah TIMBUL (dalam bahasa Belanda, kemudian pakai lampiran Indonesia), ia menulis karangan-karangan kesusastraan, filsafat dan politik, sambil bekerja sebagai guru. Tahun 1934, ia dipecat sebagai guru karena keanggotaannya dalam PNI. Kemudian ia menjadi pemimpin sekolah-sekolah Perguruan Rakyat di Bandung dan menjadi guru pada sekolah menengah Perguruan Rakyat di Jakarta. Tahun 1936, ia menjadi pemimpin surat kabar Tionghoa-Melayu KEBANGUNAN di Jakarta dan tahun 1941, ia menjadi redaktur Balai Pustaka.
Dalam banyak hal Sanusi Pane adalah antipode dari Sutan Takdir Alisjahbana. Berbeda dengan Takdir yang menghendaki coretan yang hitam dan tebal”dibawah pra-Indonesia, yang dianggapnya telah menyebabkan bangsa Indonesia telah menjadi nista, Sanusi sebaliknya malah mencari ke jaman Indonesia purba dan kearah nirwana kebudayaan Hindu. Perkembangan filsafat hidupnya sampai pada sintesa Timur dan Barat, persatuan rohani dan jasmani, akhirat dan dunia, idealisme dan materialisme. Puncak periode ini ialah dramanya Manusia Baru. PB/PR 1940.
Sanusi Pane banyak mengarang buku, diantaranya ; Pancaran Cinta dan Prosa Berirama ditahun 1926, Puspa Mega dan Kumpulan Sajak ditahun 1927, Airlangga”drama dalam bahasa Belanda, pada tahun 1928, Eenzame Caroedalueht, drama dalam bahasa Belanda ditahun 1929, Madah Kelana dan kumpulan sajak yang diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1931, naskah drama Kertajaya ditahun 1932, naskah drama Sandhyakala Ning Majapahit”pada tahun 1933, naskah drama Manusia Baru yang diterbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1940. Selain itu, ia juga menterjemahkan dari bahasa Jawa kuno kekawin Mpu Kanwa dan Arjuna Wiwaha yang diterbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1940.***(sumber)
Diposting oleh
Noah Lirik Video on Minggu, 22 Agustus 2010
Istri - Darmanto Jatman
isteri mesti digemateni
Ia sumber berkah dan rezeki
(Towikromo, Tambran, Pundong, Bantul)
Isteri sangat penting untuk kita
Menyapu pekarangan
Memasak di dapur Mencuci di sumur
mengirim rantang di sawah
dan mengeroki kita kalau kita masuk angin
Ya. Isteri sangat penting untuk kita
Ia sisihan kita
kalau kita pergi ke kandang
Ia tetimbangan kita
kalau kita menjual palawija
Ia teman belakang kita
kalau kita lapar dan mau makan
Ia sigaraning nyawa kita
kalau kita
Ia sakti kita!
Ah. Lihatlah. Ia menjadi sama penting dengan
kerbau, luku, sawah, dan pohon kelapa
Ia kita cangkul malam hari dan tak pernah mengeluh walau capek.
Ia selalu rapi menyimpan benih yang kita tanamkan dengan rasa syukur,
tahu terima kasih dan meninggikan harkat kita sebagai laki-laki.
Ia selalu memelihara anak-anak kita dengan bersungguh-sungguh
seperti kita memelihara ayam, itik, kambing atau jagung.
Ah. Ya. Isteri sangat penting bagi kita justru ketika kita mulai melupakannya:
Seperti lidah ia di mulut kita
tak terasa
Seperti jantung ia di dada kita
tak teraba
Ya.ya. Isteri sangat penting bagi kita justru ketika mulai melupakannya
Jadi, waspadalah!
Tetap, madep, manteb
Gemati, nastiti, ngati-ati
Supaya kita mandiri, perkasa, dan pintar ngatur hidup
Tak tergantung tengkulak, pak dukuh, bekel, atau lurah
Seperti Subadra bagi Arjuna
makin jelita ia dia antara maru-marunya:
Seperti Arimbi bagi Bima
Jadilah ia jelita ketika melahirkan jabang bayi Tetuka;
Seperti Sawitri bagi Setyawan
Ia memelihara nyawa kita dari malapetaka
Ah. Ah. Ah.
Alangkah pentingnya isteri ketika kita melupakannya
Hormatilah isterimu
Seperti kau menghormati Dewi Sri
Sumber hidupmu
Makanlah Karena demikianlah suratannya sumber [Profil Darmanto Jatman] Ia terlahir dengan nama Soedarmanto. Dahulu ia juga dikenal dengan nama Darmanto Jt, dan sekarang ia tersohor dengan nama Darmanto Jatman. Nama panggilan akrabnya adalah Toto. Penyair yang dahulu berambut kribo itu dilahirkan di Jakarta pada tanggal 16 Agustus 1942, dari kalangan keluarga Kristen Jawa asal Yogyakarta. Darmanto merupakan anak lelaki tertua dari enam orang bersaudara, atau anak kedua dari pasangan Lasinem dan Jatman. Dunia pendidikan Darmanto dimulai dari sekolah dasar di Klitren Lor, Yogyakarta, dan sekolah minggu di Gereja dekat tempat tinggalnya. Kemudian, setamatnya dari SMA III B Padmanaba, Bagian Ilmu Pasti Alam, Yogyakarta, Darmanto segera melanjutkan pendidikannya ke Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, tamat tahun 1968. Segera setelah itu ia melanjutkan studinya tentang Basic Humanities di East West Center Universitas Hawaii, Honolulu, Amerika Serikat (1972–1973). Darmanto juga mempelajari bidang Development Planing untuk menambah wawasan keilmuannya pada program diploma University College London, Inggris (1977–1978). Selanjutnya ia juga berhasil meraih gelar sarjana utama S-2 dari Program Pascasarjana Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (1985). Setelah berhasil meraih gelar kesarjanaannya dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (1968), Darmanto kemudian mendapat pekerjaan sebagai staf pengajar (dosen) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Diponegoro, Semarang. Sebagai seorang ilmuwan dan budayawan, Darmanto juga pernah mengajar di Akademi Seni Ruapa Indonesia (ASRI) Yogyakarta, mendirikan Fakultas Psikologi Universitas Katolik Sugiyopranoto Semarang (1984), Program Studi Psikologi, bagian dari FISIP Universitas Diponegoro Semarang (1996), dan aktif mengajar di berbagai perguruan tinggi, terutama di Semarang dan kota-kota lain di Jawa Tengah. Pada usianya yang masih muda belia, Darmanto sudah terkenal sebagai seorang selebritis. Darah seninya diperolehnya karena bakat alam dan sudah garisnya dari Yang Mahakuasa. Sejak dari muda belia hingga masa tuanya Darmanto tetap bergulat mengutak-atik bahasa sebagai sarana menulis puisi. Oleh karena itu, Darmanto layak disebut sebagai seorang penyair dengan segudang puisi dan sekaligus segudang prestasi. Jumlah puisinya ratusan dan tersebar dalam berbagai media massa dan penerbitan. Atas prestasinya di bidang seni itu Darmanto menurunkan darah seninya kepada anak-anaknya, yaitu Omi Intan Naomi (penyair wanita Angkatan 2000 versi Korrie Layun Rampan), Abigael Wohing Ati, Bunga Jeruk Permata Pekerti, Aryaning Aryo, dan Jatining Sesami. Anak-anak Darmanto itu pun mengukir pretasi dalam bidang karya sastra dan seni. Sebagai seorang intelektual yang bergerak dalam bidang pengembangan pendidikan dan penelitian, Darmanto Jatman banyak melakukan penelitian dengan berbagai ragam tema. Pluralisme atau multikulturalisme termasuk salah satu tema penelitian yang ditekuni Darmanto sejak tahun 1980-an. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bila dalam puisi-puisinya maupun tulisan-tulisan esainya Darmanto banyak berbicara masalah pluralisme dan multikulturalisme. Kegiatan lain yang dilakukan Darmanto selama ini adalah menjadi Kepala Pusat Lembaga Penelitian Sosial Budaya Universitas Diponegoro Semarang (1990–1996), penggiat masalah perdamaian, pluralisme, dan multikulturalisme di tengah kehidupan masyarakat madani, fasiltator bagi LSM-LSM, seperti LIMPAD, Forum Salatiga, dan Persepsi, serta menjadi konsultan dan fasilitator pengembangan sumber daya manusia di kota Semarang khususnya dan Jawa Tengah pada umumnya. Ia pun pernah ditunjuk oleh Prof. Dr. Muladi, S.H.( ketika itu menjabat sebagai Rektor Universitas Diponegoro Semarang, mantan Menteri Kehakiman, Mensekneg, dan Hakim Agung, serta sekarang Ketua Habibie Center) menjadi Ketua Jurusan Psikologi di Universitas Diponegoro (1995–2002). Tulisan-tulisan Darmanto meliputi puisi, naskah lakon, esai, cerita pendek, dan artikel tentang masalah-masalah sosial budaya dan psikologi. Ketika Darmanto masih menjadi mahasiswa di Yogyakarta (1964), ia pernah mendirikan Teater Kristen Yogya, Studiklub Sastra Kristen Yogya, menerbitkan kumpulan Sajak-Sajak Putih (1965) bersama Jajak MD dan Dharmadji Sosropuro, serta menerbitkan Sajak Ungu bersama A. Makmur Makka (1966). Darmanto juga pernah menyutradarai beberapa pementasan teater, antara lain, “Perang Troya Tak Akan Meletus” karya Jean Girodeaux (1967). Kemudian setelah tahun-tahun itu Darmanto pun ikut ramai-ramai menulis puisi di majalah sastra Horison dan pentas pembacaan sajak di DKJ-TIM Jakarta, serta menerbitkan puisi-puisinya Sang Darmanto di Yayasan Puisi Indonesia (1976). Pada tahun 1980-an Daramanto diundang untuk membacakan sajak-sajaknya di forum-forum internasional, antara lain, Festival Puisi Adelaide, Australia (1980), dan International Poetry Reading di Rotterdam, Negeri Belanda (1983). Sajak-sajak yang ditulis untuk kedua kegiatan itu kemudian dibukukan oleh Darmanto menjadi Ki Blakasuta Bla Bla. Setelah itu Darmanto yang terus bergolak menciptakan sejarah pembuatan puisi nyleneh dan glenyengan mengahdirkan buku Karto Iyo Bilang Mboten. Karya-karya Darmanto cukup banyak dan tidak terbatas karya sastra, antara lain, (1) Sajak-Sajak Manifes (PKPI, 1968), (2) Bangsat (Puisi Indonesia, 1975), (3) Ki Blaka Suta Bla Bla (Puisi Indonesia, 1980), (4) Karto Iyo Bilang Mboten (Puisi Indonesia, 1981), (5) Sang Darmanto (Puisi Indonesia, 1982), (6) Golf untuk Rakyat (Bentang Budaya, 1995), (7) Isteri (Grasindo, 1997), dan (8) Sori Gusti (LIMPAD, 2002). Beberapa puisi Darmanto juga dimuat dalam buku antologi, antara lain, Laut Biru Langit Biru (1977 susunan Ajip Rosidi), Tugu (1986 susunan Linus Suryadi A.G.), Tonggak 2 (1987 susunan Linus Suryadi A.G.), dan Horison Sastra Indonesia 1 Kitab Puisi (2002 susunan Taufiq Ismail dkk.). Beberapa puisi juga sudah diterjemahkan ke dalam berbagai-bagai bahasa asing, antara lain, dalam bahasa Inggris, Belanda, Jerman, dan Jepang. Harry Aveling menerjemahkan sajak-sajak Darmanto Jatman ke dalam bahasa Inggris bersama-sama sajak Sutardji Calzoum Bachri dan Abdul Hadi W.M. dalam Arjuna in Meditation (1976). Selain menulis karya sastra, Darmanto juga mengumpulkan esai-esai dan artikelnya yang kemudian diterbitkan menjadi buku, antara lain, (1) Sastra, Psikologi, dan Masyarakat (1985), (2) Sekitar Masalah Kebudayaan (1986), (3) Komunkasi Manusia (1994), (4) Solah Tingkah Orang Indonesia (1995), (5) Perilaku Kelas Menengah Indonesia (1995), (6) Psikologi Jawa (Bentang Budaya, 1997), (7) Politik Jawa (Bentang Budaya, 1999), (8) Indonesia Tanpa Pagar (LIMPAD, 2002), dan (9) Terima Kasih Indonesia (LIMPAD, 2002). Dua buku yang disebutkan terakhir dan diterbitkan oleh LIMPAD ini ditulis bersama Adriani S. Soemantri. Pada usianya yang ke-60 tahun, Darmanto Jatman merasa mendapatkan kehormatan yang sungguh tak terkira harganya. Ia mendapatkan anugerah The S.E.A. Write Awards 2002 dari Putra Mahkota Thailand Maha Vajiralongkorn atas buku kumpulan puisinya Isteri. Upacara penyerahan hadiah sastra tingkat Asia Tenggara itu dilakukan pada tanggal 3–9 Oktober 2002 di Grand Ballroom, The Oriental Hotel, Bangkok, Thailand. Untuk keperluan penyerahan hadiah itu, Abdul Rozak Zaidan dan Nikmah Soenardjo menerbitkan buku yang berjudul Sastrawan Indonesia, Darmanto Jatman, Penerima Hadiah Sastra Asia Tenggara (2002, penerbit Pusat Bahasa) dalam dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Dalam tahun itu juga Darmanto Jatman dinobatkan sebagai pemenang hadiah sastra tahunan dari Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, dalam rangka Bulan Bahasa dan Sastra 2002, bersama dengan Gus Tf.(dari Sumatera Barat) dan Joko Pinurbo (dari Yogyakarta). Dalam “Catatan Penerbit” buku Sori Gusti (2002) Darmanto Jatman mengatakan “Enam puluh adalah angka mistik. Angka penuh magi. Dulu mahasiswa baru bisa lulus kalau dapat nilai 60. 59 saja nggak lulus. Di usia 60 ini, saya ingin mewujudkan imaji “masa tua” sewaktu saya masih berumur 27 tahun. Saya ingin menikmati hidup, duduk di kursi goyang sambil membaca Alkitab. Atau menulis, Kalau lelah, saya membaca; bosan membaca, saya berbaring, dan kembali menulis.” Untuk itu saya ucapkan selamat kepada Darmanto Jatman, rahayu nir ing sambekala saka pondok donyo tekan desa akhirat, mewujudkan imaji “masa tua”, duduk di kursi goyang sambil membaca dan memahami Alkitab, lalu membaca buku lainnya, kemudian menulis, dan terus menulis melaksankan “pangendika” Gusti.(sumber)
Karir : Pendiri Bengkel Teater di Yogyakarta pada tahun 1967 dan juga Bengkel Teater Rendra di Depok. Semenjak masa kuliah beliau sudah aktif menulis cerpen dan esai di berbagai majalah.
Masa kecil
Anak dari pasangan R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah. Ayahnya adalah seorang guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa pada sekolah Katolik, Solo, di samping sebagai dramawan tradisional; sedangkan ibunya adalah penari serimpi di keraton Surakarta. Masa kecil hingga remaja Rendra dihabiskannya di kota kelahirannya itu
Pendidikan
* TK Marsudirini, Yayasan Kanisius. * SD s/d SMU Katolik, St. Yosef, Solo – Tamat pada tahun 1955. * Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta – Tidak tamat. * Mendapat beasiswa American Academy of Dramatical Art (1964 – 1967).
Rendra sebagai sastrawan
Bakat sastra Rendra sudah mulai terlihat ketika ia duduk di bangku SMP. dengan menulis puisi, cerita pendek dan drama untuk berbagai kegiatan sekolahnya, piawai di atas panggung mementaskan beberapa dramanya dan tampil sebagai pembaca puisi yang sangat berbakat.
Pada tahun 1952 ia petama kali mempublikasikan puisinya di media massa melalui majalah Siasat. Setelah itu, puisi-puisinya pun lancar mengalir menghiasi berbagai majalah pada saat itu, seperti Kisah, Seni, Basis, Konfrontasi, dan Siasat Baru. Hal itu terus berlanjut seperti terlihat dalam majalah-majalah pada dekade selanjutnya, terutama majalah tahun 60-an dan tahun 70-an.
“Kaki Palsu” adalah drama pertamanya, dipentaskan ketika ia di SMP, dan “Orang-Orang di Tikungan Jalan” adalah drama pertamanya yang mendapat penghargaan dan hadiah pertama dari Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta. Pada saat itu ia sudah duduk di SMA. Penghargaan itu membuatnya sangat bergairah untuk berkarya. Prof. A. Teeuw, di dalam bukunya Sastra Indonesia Modern II (1989), berpendapat bahwa dalam sejarah kesusastraan Indonesia modern Rendra tidak termasuk ke dalam salah satu angkatan atau kelompok seperti Angkatan 45, Angkatan 60-an, atau Angkatan 70-an. Dari karya-karyanya terlihat bahwa ia mempunyai kepribadian dan kebebasan sendiri.
Karya-karya Rendra tidak hanya terkenal di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Banyak karyanya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, di antaranya bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Jepang dan India.
Ia juga aktif mengikuti festival-festival di luar negeri, di antaranya The Rotterdam International Poetry Festival (1971 dan 1979), The Valmiki International Poetry Festival, New Delhi (1985), Berliner Horizonte Festival, Berlin (1985), The First New York Festival Of the Arts (1988), Spoleto Festival, Melbourne, Vagarth World Poetry Festival, Bhopal (1989), World Poetry Festival, Kuala Lumpur (1992), dan Tokyo Festival (1995).
Bengkel Teater
Pada tahun 1961, sepulang dari Amerika Serikat, Rendra mendirikan grup teater di Yogyakarta. Akan tetapi, grup itu terhenti karena ia pergi lagi ke Amerika Serikat. Ketika kembali lagi ke Indonesia (1968), ia membentuk kembali grup teater yang bernama Bengkel Teater. Bengkel Teater ini sangat terkenal di Indonesia dan memberi suasana baru dalam kehidupan teater di tanah air. Sampai sekarang Bengkel Teater masih berdiri dan menjadi basis bagi kegiatan keseniannya.
Penelitian tentang karya Rendra
Profesor Harry Aveling, seorang pakar sastra dari Australia yang besar perhatiannya terhadap kesusastraan Indonesia, telah membicarakan dan menerjemahkan beberapa bagian puisi Rendra dalam tulisannya yang berjudul “A Thematic History of Indonesian Poetry: 1920 to 1974″. Karya Rendra juga dibicarakan oleh seorang pakar sastra dari Jerman bernama Profesor Rainer Carle dalam bentuk disertasi yang berjudul Rendras Gedichtsammlungen (1957-1972): Ein Beitrag Zur Kenntnis der Zeitgenossichen Indonesischen Literatur. Verlag von Dietrich Reimer in Berlin: Hamburg 1977.
Penghargaan
* Hadiah Pertama Sayembara Penulisan Drama dari Bagian Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan , Yogyakarta (1954) * Hadiah Sastra Nasional BMKN (1956) * Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia (1970) * Hadiah Akademi Jakarta (1975) * Hadiah Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1976) * Penghargaan Adam Malik (1989) * The S.E.A. Write Award (1996) * Penghargaan Achmad Bakri (2006).
Kontroversi pernikahan, masuk Islam dan julukan Burung Merak
Baru pada usia 24 tahun, ia menemukan cinta pertama pada diri Sunarti Suwandi. Dari wanita yang dinikahinya pada 31 Maret 1959 itu, Rendra mendapat lima anak: Teddy Satya Nugraha, Andreas Wahyu Wahyana, Daniel Seta, Samuel Musa, dan Klara Sinta. Satu di antara muridnya adalah Bendoro Raden Ayu Sitoresmi Prabuningrat, putri darah biru Keraton Yogyakarta, yang bersedia lebur dalam kehidupan spontan dan urakan di Bengkel Teater. Tugas Jeng Sito, begitu panggilan Rendra kepadanya, antara lain menyuapi dan memandikan keempat anak Rendra-Sunarti.
Ujung-ujungnya, ditemani Sunarti, Rendra melamar Sito untuk menjadi istri kedua, dan Sito menerimanya. Dia dinamis, aktif, dan punya kesehatan yang terjaga, tutur Sito tentang Rendra, kepada Kastoyo Ramelan dari Gatra. Satu-satunya kendala datang dari ayah Sito yang tidak mengizinkan putrinya, yang beragama Islam, dinikahi seorang pemuda Katolik. Tapi hal itu bukan halangan besar bagi Rendra. Ia yang pernah menulis litani dan mazmur, serta memerankan Yesus Kristus dalam lakon drama penyaliban Cinta dalam Luka, memilih untuk mengucapkan dua kalimat syahadat pada hari perkawinannya dengan Sito, 12 Agustus 1970, dengan saksi Taufiq Ismail dan Ajip Rosidi.
Peristiwa itu, tak pelak lagi, mengundang berbagai komentar sinis seperti Rendra masuk Islam hanya untuk poligami. Terhadap tudingan tersebut, Rendra memberi alasan bahwa ketertarikannya pada Islam sesungguhnya sudah berlangsung lama. Terutama sejak persiapan pementasan Kasidah Barzanji, beberapa bulan sebelum pernikahannya dengan Sito. Tapi alasan yang lebih prinsipil bagi Rendra, karena Islam bisa menjawab persoalan pokok yang terus menghantuinya selama ini: kemerdekaan individual sepenuhnya. Saya bisa langsung beribadah kepada Allah tanpa memerlukan pertolongan orang lain. Sehingga saya merasa hak individu saya dihargai, katanya sambil mengutip ayat Quran, yang menyatakan bahwa Allah lebih dekat dari urat leher seseorang.
Toh kehidupannya dalam satu atap dengan dua istri menyebabkan Rendra dituding sebagai haus publisitas dan gemar popularitas. Tapi ia menanggapinya dengan ringan saja. Seperti saat ia menjamu seorang rekannya dari Australia di Kebun Binatang Gembira Loka, Yogyakarta. Ketika melihat seekor burung merak berjalan bersama dua betinanya, Rendra berseru sambil tertawa terbahak-bahak, Itu Rendra! Itu Rendra!. Sejak itu, julukan Burung Merak melekat padanya hingga kini. Dari Sitoresmi, ia mendapatkan empat anak: Yonas Salya, Sarah Drupadi, Naomi Srikandi, dan Rachel Saraswati
Sang Burung Merak kembali mengibaskan keindahan sayapnya dengan mempersunting Ken Zuraida, istri ketiga yang memberinya dua anak: Isaias Sadewa dan Maryam Supraba. Tapi pernikahan itu harus dibayar mahal karena tak lama sesudah kelahiran Maryam, Rendra menceraikan Sitoresmi pada 1979, dan Sunarti pada tahun 1981.
Beberapa karya Drama
* Orang-orang di Tikungan Jalan (1954) * Bip Bop Rambaterata (Teater Mini Kata) * SEKDA (1977) * Selamatan Anak Cucu Sulaiman (dimainkan 2 kali) * Mastodon dan Burung Kondor (1972) * Hamlet (terjemahan dari karya William Shakespeare, dengan judul yang sama)- dimainkan dua kali * Macbeth (terjemahan dari karya William Shakespeare, dengan judul yang sama) * Oedipus Sang Raja (terjemahan dari karya Sophokles, aslinya berjudul “Oedipus Rex”) * Lisistrata (terjemahan) * Odipus di Kolonus (Odipus Mangkat) (terjemahan dari karya Sophokles, * Antigone (terjemahan dari karya Sophokles, * Kasidah Barzanji (dimainkan dua kali) * Perang Troya Tidak Akan Meletus (terjemahan dari karya Jean Giraudoux asli dalam bahasa Prancis: “La Guerre de Troie n’aura pas lieu”) * Panembahan Reso (1986) * Kisah Perjuangan Suku Naga (dimainkan 2 kali)
Sajak/Puisi
* Balada Orang-Orang Tercinta (Kumpulan sajak) * Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta * Blues untuk Bonnie * Empat Kumpulan Sajak * Jangan Takut Ibu * Mencari Bapak * Nyanyian Angsa * Pamphleten van een Dichter * Perjuangan Suku Naga * Pesan Pencopet kepada Pacarnya * Potret Pembangunan Dalam Puisi * Rendra: Ballads and Blues Poem (terjemahan) * Rick dari Corona * Rumpun Alang-alang * Sajak Potret Keluarga * Sajak Rajawali * Sajak Seonggok Jagung * Sajak Seorang Tua tentang Bandung Lautan Api * State of Emergency * Surat Cinta(sumber)
dalam setiap telur semoga ada burung dalam setiap burung semoga ada engkau dalam setiap engkau semoga ada yang senantiasa terbang menembus silau matahari memecah udara dingin memuncak ke lengkung langit menukik melintas sungai merindukan telur
Profil Sapardi Djoko Damono
Prof Dr Sapardi Djoko Damono dikenal sebagai salah seorang sastrawan yang memberi sumbangan besar kepada kebudayaan masyarakat modern di Indonesia. Salah satu sumbangan terbesar Guru Besar Fakultas Sastra UI ini adalah melanjutkan tradisi puisi lirik dan berupaya menghidupkan kembali sajak empat seuntai atau kwatrin yang sudah muncul di jaman para pujangga baru seperti Amir Hamzah dan Chairil Anwar.
Pria kelahiran Solo, Jawa Tengah pada 20 Maret 1940 ini, mengaku tak pernah berencana menjadi penyair, karena dia berkenalan dengan puisi secara tidak disengaja. Sejak masih belia putra Sadyoko dan Sapariyah itu, sering membenamkan diri dalam tulisan-tulisannya. Bahkan, ia pernah menulis sebanyak delapan belas sajak hanya dalam satu malam. Kegemarannya pada sastra, sudah mulai tampak sejak ia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Kemudian, ketika duduk di SMA, ia memilih jurusan sastra dan kemudian melanjutkan pendidikan di UGM, fakultas sastra.
Anak sulung dari dua bersaudara abdi dalem Keraton Surakarta itu mungkin mewarisi kesenimanan dari kakek dan neneknya. Kakeknya dari pihak ayah pintar membuat wayang—hanya sebagai kegemaran—dan pernah memberikan sekotak wayang kepada sang cucu. Nenek dari pihak ibunya gemar menembang (menyanyikan puisi Jawa) dari syair yang dibuat sendiri. “Tapi saya tidak bisa menyanyi, suara saya jelek,” ujar bekas pemegang gitar melodi band FS UGM Yogyakarta itu. Sadar akan kelemahannya, Sapardi kemudian mengembangkan diri sebagai penyair.
Selain menjadi penyair, ia juga melaksanakan cita-cita lamanya: menjadi dosen. “Jadi dosen ‘kan enak. Kalau pegawai kantor, harus duduk dari pagi sampai petang,” ujar lulusan Jurusan Sastra Barat FS&K UGM ini. Dan begitu meraih gelar sarjana sastra, 1964, ia mengajar di IKIP Malang cabang Madiun, selama empat tahun, dilanjutkan di Universitas Diponegoro, Semarang, juga selama empat tahun. Sejak 1974, Sapardi mengajar di FS UI.
Sapardi menulis puisi sejak di kelas II SMA. Karyanya dimuat pertama kali oleh sebuah surat kabar di Semarang. Tidak lama kemudian, karya sastranya berupa puisi-puisi banyak diterbitkan di berbagai majalah sastra, majalah budaya dan diterbitkan dalam buku-buku sastra. Beberapa karyanya yang sudah berada di tengah masyarakat, antara lain Duka Mu Abadi (1969), Mata Pisau dan Aquarium (1974).
Sebuah karya besar yang pernah ia buat adalah kumpulan sajak yang berjudul Perahu Kertas dan memperoleh penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta dan kumpulan sajak Sihir Hujan – yang ditulisnya ketika ia sedang sakit – memperoleh Anugerah Puisi Poetra Malaysia. Kabarnya, hadiah sastra berupa uang sejumlah Rp 6,3 juta saat memperoleh Anugerah Puisi Poetra Malaysia langsung dibelanjakannya memborong buku. Selain itu ia pernah memperoleh penghargaan SEA Write pada 1986 di Bangkok, Thailand.
Para pengamat menilai sajak-sajak Sapardi dekat dengan Tuhan dan kematian. “Pada Sapardi, maut atau kematian dipandang sebagai bagian dari kehidupan; bersama kehidupan itu pulalah maut tumbuh,” tulis Jakob Sumardjo dalam harian Pikiran Rakyat, 19 Juli 1984.
Bekas anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) ini juga menulis esei dan kritik. Sapardi, yang pernah menjadi redaktur Basis dan kini bekerja di redaksi Horison, berpendapat, di dalam karya sastra ada dua segi: tematik dan stilistik (gaya penulisan). Secara gaya, katanya, sudah ada pembaruan di Indonesia. Tetapi di dalam tema, belum banyak.
Penyair yang pernah kuliah di Universitas Hawaii, Honolulu, AS, ini juga menulis buku ilmiah, satu di antaranya Sosiologi Sastra, Sebuah Pengantar Ringkas. (1978).
Selain melahirkan puisi-puisi, Sapardi juga aktif menulis esai, kritik sastra, artikel serta menerjemahkan berbagai karya sastra asing. Dengan terjemahannya itu, Sapardi mempunyai kontribusi penting terhadap pengembangan sastra di Tanah Air. Selain dia menjembatani karya asing kepada pembaca sastra, ia patut dihargai sebagai orang yang melahirkan bentuk sastra baru.
Dengan kepekaan dan wawasan seorang sastrawan, Sapardi ikut mewarnai karya-karya terjemahannya seperti Puisi Brasilia Modern, Puisi Cina Klasik dan Puisi Parsi Klasik yang ditulis dalam bahasa Inggris. Selain itu dia juga menerjemahkan karya asing seperti karya Hemmingway The Old Man and the Sea, Daisy Manis (Henry James), semuanya pada 1970-an. Juga, sekitar 20 naskah drama seperti Syakuntala karya Kalidasa, Murder in Cathedral karya TS Elliot, dan Morning Become Electra trilogi karya Eugene O’neil.
Sumbangsih Sapardi juga cukup besar kepada budaya dan sastra, dengan melakukan penelitian, menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan aktif sebagai administrator dan pengajar, serta menjadi dekan Fakultas Sastra UI periode 1995-1999. Dia menjadi penggagas pengajaran mata kuliah Ilmu Budaya Dasar di fakultas sastra.
Dia menyadari bahwa menjadi seorang sastrawan tidak akan memperoleh kepuasan finansial. Kegiatan menulis adalah sebagai waktu istirahat, saat dia ingin melepaskan diri dari rutinitas pekerjaannya sehari-hari. Menikah dengan Wardiningsih, ia dikaruniai dua anak, Rasti Suryandani dan Rizki Henriko.
Anak SMP membuka Label PUISI, tentu saja PUISInya ala anak SMP, bisa karya2 nya Master2 PUISI BLOGGER, ataupun penyair atau sastrawan yang sudah terkenal dan termasyhur di jagat perpuisian atau persastraan Indonesia, bahkan Dunia.
Diposting oleh
Noah Lirik Video on Kamis, 08 Juli 2010
Ketika sungai sungai kotor Mata air terkontaminasi Ketika air tanah berlimbah Jangan cuma diam dan menunggu Berbuatlah untuk air
Ketika sumur sumur mengering Ketika bumi makin memanas Sumber kehidupan gak ada lagi Jangan cuma diam dan menunggu Hey berhematlah berhematlah Berhematlah untuk air Reff: Krisis krisis air air krisis Krisis krisis air air krisis Krisis krisis air air krisis Krisis krisis air air krisis Krisis krisis air air krisis Krisis krisis air air krisis Krisis krisis air air krisis Krisis krisis air air krisis
Ketika kesegaran hilang Ketika kehausan datang Ketika kematian menjelang Jangan cuma diam jangan menunggu Berlarilah berlarilah berlarilah Berlarilah untuk air
Back to Reff:
air air air ember kosong mencuri tenang dari tidurku lagi lagi bingkai mimpi kehilangan satu sudut percuma aku bangun yang kulihat hanya bumi menangis sendu air berteriak sampai kering detak jantung hutan berhenti ditusuki ranting kering penyakit datang berakhir kematian bukan karena perang tapi langka-nya air bersih kotori saja bumi kita biar senang puaskan diri sendiri,habiskan sumber mata air kita buat cepat dunia binasa apakah itu keinginan kita apa yang telah kita lakukan pada bumi kita sampai kapan aku butuh nafas untuk berhati bersih,bumi rindu penyelamat air kehidupan apakah anda penyelamat itu ayo beri air pada anak cucu tapi bukan air mata(sumber) krisis air slank
Diposting oleh
Noah Lirik Video on Rabu, 07 Juli 2010
I think about the end of the world
I'm thinking about you
All the struggle we had and the past
Blood and tears my love how could I forget ?
In sorrow now since we fell a part
A million miles away
Still I put my faith on the high sky
Everlasting pain! How can I escape? Reff :
Don't go, don't go away,
stay with me here in this lullabies,
Darling it wont be long,
till we find our away back home again,
yea,..yea,..yea,..yea,..yeah,
I think about the evil ways I've been
The self destruction years
I disrespect my self and the world
Chase by ghost of lust kill the love ones down.
Reff :
Don't go, don't go away,
stay with me here in this lullabies,
Darling it wont be long,
till we find our away back home again,
yea,..yea,..yea,..yea,..yeah,
At night when the shadows falls,
Wish I'm here just right there close by your side,
This lone some dreams,
I'm huanted by the memories of rose,
I gave up all the poison for you,
Give up the wildest dream,
End in the end I'll grow old with you,
Only you my love burn the fire burns
Reff :
Don't go, don't go away,
stay with me here in this lullabies,
Darling it wont be long,
till we find our away back home again,
yea,..yea,..yea,..yea,..yeah,
~~~ memory of rose sid sumber : http://lirikdankunci.blogspot.com/2010/07/lirik-dan-kunci-gitar-superman-is-dead.html , http://indrablak.ngeblogs.com/2010/01/24/
Diposting oleh
Noah Lirik Video on Minggu, 31 Januari 2010
You and me We used to be together Every day together always
I really feel Like I'm losing my best friend I can't believe This could be the end
It looks as though you're letting go And if it's real Well I don't want to know
Don't speak I know just what you're saying So please stop explaining Don't tell me 'cause it hurts Don't speak I know what you're thinking I don't need your reasons Don't tell me 'cause it hurts
Our memories They can be inviting But some are altogether Mighty frightning
As we die, both you and I With my head in my hands I sit and cry
It's all ending I gotta stop pretending who we are You and me I can see us dying...are we?